Gue beneran nggak habis pikir sama orang-orang yang masih kemakan narasi kalau cuma Australia doang yang "nagih utang budi" setelah kasih bantuan bencana? Bro, dengerin ya. Di dunia geopolitik yang keras ini, mindset "nggak ada makan siang gratis" itu adalah hukum alam. Kalau lo mikir bantuan internasional itu murni karena rasa sayang dan kemanusiaan tanpa ada agenda di belakangnya, mending lo bangun dari mimpi sekarang juga. Bilang cuma Australia yang rese itu literally bukti kalau lo kurang baca sejarah atau emang lagi mau tutup mata aja sama gimana cara kerja dunia.


Kita flashback sebentar ke tahun 2015 waktu Tony Abbott, PM Australia saat itu, mendadak jadi public enemy di Indonesia gara-gara ngungkit bantuan tsunami satu miliar dolar cuma buat nyelatin anggota Bali Nine dari eksekusi mati. Itu emang red flag parah dan bikin seisi Indonesia ngamuk sampai muncul gerakan koin untuk Australia. Tapi masalahnya, apa cuma mereka? Nggak. Banyak negara lain yang mainnya lebih "halus" tapi efeknya sama-sama bikin kita berasa punya utang nyawa. Lihat aja gimana Amerika Serikat lewat USAID atau lembaga donor internasional lainnya sering banget kasih bantuan yang ujung-ujungnya ada embel-embel perubahan kebijakan atau standar tertentu yang harus diikuti Indonesia. Kalau nggak nurut, kran bantuan bisa pelan-pelan ditutup atau dipersulit. Itu namanya diplomasi sandera, cuma kemasannya aja yang lebih rapi dari gayanya si Abbott.


Contoh paling nyata di luar sana bisa kita lihat dari China. Banyak negara di Afrika atau bahkan tetangga kita di Asia Selatan kayak Sri Lanka yang ngerasain gimana rasanya "dibantu" bangun infrastruktur megah tapi pas gagal bayar, aset strategis mereka langsung "dicaplok" atau harus nurut sama kebijakan luar negeri Beijing. Di Indonesia sendiri, China sering banget flexing soal bantuan vaksin atau peralatan medis pas zaman COVID-19 kemarin buat memperkuat narasi persahabatan mereka di tengah sengketa Laut Natuna Utara. Ini tuh semacam soft power yang bikin kita jadi nggak enak hati mau bersikap tegas. Jadi kalau ada yang bilang cuma Australia yang main ungkit-ungkitan, itu argumen yang beneran cringe dan nggak berdasar sama sekali.


Jepang juga nggak jauh beda kalau kita mau jujur. Bantuan mereka lewat ODA (Official Development Assistance) itu gede banget, tapi coba cek siapa yang dapet proyek infrastrukturnya. Ujung-ujungnya balik lagi ke perusahaan Jepang sendiri. Ini namanya strategi muter duit yang bikin negara penerima bantuan seolah-olah berhutang budi besar, padahal secara ekonomi Jepang juga dapet untung berlipat ganda. Bahkan di tahun 2025 ini, kita bisa lihat gimana Presiden Prabowo Subianto mulai tegas bilang kalau Indonesia mau mandiri dan nggak mau terus-terusan tergantung sama bantuan luar negeri karena beliau paham betul kalau setiap dollar atau yen yang masuk itu ada harganya. Beliau sadar kalau terima bantuan terus-terusan cuma bakal bikin posisi tawar kita jadi lemah di mata dunia.


Intinya, dalam hubungan internasional, bantuan itu adalah alat untuk mencapai kepentingan nasional masing-masing negara. Australia emang blunder banget karena ngomongnya terlalu frontal di depan publik, tapi negara lain kayak Amerika, China, atau Jepang mainnya di balik layar dengan cara yang nggak kalah "menekan". Bilang cuma Australia yang nagih utang budi itu argumen bodoh yang cuma fokus sama permukaan doang. Kita harus lebih pinter baca situasi dan sadar kalau kedaulatan itu harganya mahal, dan seringkali kedaulatan itu tergadaikan cuma gara-gara kita terlalu nyaman sama bantuan yang katanya "ikhlas" padahal penuh dengan kepentingan politik.


Sumber:
The Guardian, "Tony Abbott: Indonesia should reciprocate tsunami aid by sparing Bali Nine pair", 18/02/2015.

BBC News, "Anger at PM Tony Abbott's Indonesia tsunami aid comments", 19/02/2015.
Jawa Pos, "Sejumlah Negara Tawarkan Bantuan atas Bencana Sumatera, Ini Tanggapan Pemerintah Indonesia", 09/12/2025.
Kompas, "China Disebut Ciptakan Gelombang Utang di Negara Berkembang", 28/05/2025.